Juventus

MY FAVORITE CLUB - Juventus

Position
Play
Win
Draw
Lost
Goal Drought
Points
Juventus didirikan pada pertengahan tahun 1897 oleh siswa-siswa dari sekolah Massimo D'Azeglio Lyceum di Turin. Nama Juventus tidak langsung disandang klub ini. Bermula dari "Societa Via Port", kemudian "Societa sportive Massimo D Azeglio", dan yang terakhir "Sport Club Juventus". Nama tersebut berhasil menarik hati para pendirinya sehingga mereka pun setuju menggunakannya.

Juventus bermarkas di Turin, Piedmont, Italia. Juventus bergabung dengan Kejuaraan Sepak Bola Italia pada tahun 1900. Pada saat itu, tim ini menggunakan jersey warna pink dan celana hitam. Juve meraih gelar seri-A perdananya pada 1905, waktu mereka bermain di Stadio Motovelodromo Umberto I. Di sana lah klub ini mulai mengenakan jersey menjadi hitam putih

Klub ini telah menjalani beragam sejarah manis dan merupakan klub tersukses sepanjang sejarah Liga Italia Seri-A. Juventus berhasil meraih 28 gelar juara liga dan membuatnya menjadi klub terbaik Italia abad ke-20.

Lima Gelar Berturut-turut
Fenomena Juventus terus bergulir di rentang 1930-1935, di mana Italia untuk pertama kalinya dalam sejarah mencatat nama klub yang sama sebagai scudetto lima kali secara beruntun. Dan, pergantian format kompetisi menjadi Liga Serie A semakin mengukuhkan Juventus sebagai tim solid yang menghantui keperkasaan Inter Milan.

Keberhasilan itu tak bisa terlepas dari peran bek sayap, Luisito Monti, yang mempunyai gaya bermain yang tangkas dan pekerja keras. Kemudian, Juventus terus melahirkan pemain-pemain hebat lainnya seperti Bertolini (bek), Sernagiotto (sayap), maupun Felice Placido yang menyumbangkan gol-gol penting bagi timnya.

Masa setelah 1935, prestasi Juventus mengalami fluktuasi. Juventus dikalahkan Inter Milan pada laga akhir kompetisi 1937. Pada 1938 Juventus harus bekerja ekstra keras meladeni Torino untuk meraih scudetto. Satu tahun berikutnya Juventus bermain buruk dan terdepak ke tangga ke-8 kompetisi. Kedatangan pemain belakang cemerlang Carlo Parola hanya bisa membuat Juventus berada diposisi lima tangga lebih baik di tahun berikutnya, dan lalu kembali terpuruk ke posisi ke-6 pada kompetisi 1941.

Juventus baru bisa meraih gelar juara pada musim berikutnya, sesaat sebelum pecah Perang Dunia II. Namun, kompetisi kembali terhambat seiring pecahnya perang. Liga baru dapat digelar kembali tahun 1944, dan gelar dibawa oleh Torino. Juventus bahkan tidak bermain di partai puncak.

Memainkan penjaga gawang Giovanni Viola, bek Bertucelli, Piccini, dan penyerang Vivolo pada kompetisi 1949, Juventus berhasil keluar sebagai juara liga. Gelar ke-8 dicatatkan klub dengan rekor 100 gol. Tapi, tahun berikutnya kembali memburuk seiring perginya pilar sayap Juventus, Martino, yang berlabuh ke Argentina.

Meski Juventus kembali ke jalur kemenangan pada 1952, namun kemunduran klub ini tak bisa ditutupi dengan kegagalan mereka menyelesaikan partai final menghadapi Inter Milan di dua musim berikutnya. Dan, keputusan Gianni Agnelli meninggalkan klub pada 18 September 1954 mengawali masa gelap kedua.

Raihan gelar dan kesuksesan Juventus melintasi jalan yang panjang. Kesuksesan dan keterpurukan berdatangan silih berganti. Kondisi terburuk berlangsung usai skandal mengguncang klub yang kemudian terkenal dengan nama skandal Calciopolli, dan mengakibatkan Juventus terdegradasi ke Serie B pada musim 2006-2007.

Hasil buruk membayangi kiprah awal Juventus di Serie B sebelum akhirnya membukukan kemenangan atas Crotone, Modena, Piacenza, Treviso, Triestina, Frosinone dan Brescia yang membuat mereka mendekati zona promosi.

Di tahun 2007-08, Juventus kembali ke Serie A. Seperti bangkit dari kubur, Juventus murka di awal musim. Dengan pemain Criscito, Andrade, Grygera, Molinaro, Tiago, Almiron, Nocerino, Salihamidzic, dan Vicenzo Iaquinta, Juventus menggedor gawang Livorno 5-1, menaklukan Cagliari 3-2, menahan AS Roma 2-2, memecundangi Reggina 4-0, menekuk Empoli 3-0, dan menahan imbang juara bertahan Inter Milan 1-1.

Juventus mampu kembali ke jalur kemenangan setelah mengalahkan AC Milan, Parma, Atlanta, dan Lazio. Juve memang tak berhasil meraih gelar scudetto, tetapi posisi ketiga tentulah sukses tersendiri untuk klub yang baru saja promosi. Bahkan, mampu meraih gelar top skorer melalui kaptennya, Del Piero yang membukukan 21 gol sepanjang musim.
GOALKEEPERS
DEFENDERS
MIDFIELDERS
FORWARD